Posts Tagged “Analisa BOW dalam RAB”

Analisa BOW dalam RAB

Seiring berkembangnya kegiatan konstruksi, ruang lingkup pekerjaan pembangunan juga semakin berkembang. Banyak lingkup pekerjaan pembangunan memuat unit-unit pekerjaan tertentu yang tidak bisa disamakan. Pekerjaan ini membutuhkan adanya RAB (Rencana Anggaran Biaya) yang bisa dianalisa dengan metode perhitungan BOW Misalnya, pekerjaan bangunan gedung atau rumah terdiri dari unit-unit pekerjaan, yaitu pekerjaan persiapan; pekerjaan pondasi, pekerjaan beton; pekerjaan dinding, pekerjaan atap, pekerjaan lantai, pekerjaan plapond dan lainnya. Bahkan dari setiap unit pekerjaan tersebut masih mencakup sub pekerjaan lainnya. Misalnya, pekerjaan pondasi mencakup pekerjaan galian pondasi, pekerjaan pasang pondasi dan lainnya. Oleh karena itu membuat analisa BOW dalam RAB sangat penting dilakukan.

 

 

Di Indonesia sendiri, terdapat standar baku atau Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mengatur satuan pekerjaan konstruksi. Umumnya standar baku tersebut dibuat dan diterbitkan oleh masing-masing instansi pemerintah daerah di seluruh wilayah Indonesia melalui Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten atau Kota setiap tahun. Kemudian standar baku ini akan menjadi acuan dasar perhitungan biaya pekerjaan pembangunan. Jadi, Anda bisa memperkirakan besarnya biaya yang harus dikeluarkan demi terselenggaranya kegiatan konstruksi.

 

 

Konsep Dasar Membuat Analisa BOW dalam RAB

 

Berbicara tentang membuat analisa BOW dalam RAB tentu tidak akan pernah terlepas dari analisa besarnya biaya kegiatan konstruksi yang akan dikeluarkan. Konsep dasar ini selalu dikaitkan sebagai ukuran untuk menentukan harga satuan pekerjaan. Setelahnya, ukuran untuk menentukan harga satuan pekerjaan akan dianalisis dari setiap bahan atau tenaga yang dibutuhkan yang diberi angka koefisien. Kemudian angka koefisien ini menjadi alat pengali terhadap volume pekerjaan, harga material dan upah kerja. Hasil akhir perhitungan tersebut akan mengarah pada harga satuan dari setiap unit pekerjaan.

 

 

Pengertian analisa harga satuan pekerjaan merupakan metode perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi yang dirinci sesuai kebutuhan konstruksi untuk menyelesaikan pembangunan per satuan pekerjaan konstruksi. Kebutuhan konstruksi seperti bahan bangunan, upah kerja dan peralatan bangunan yang harus diketahui harga bahan bangunan, standar pengupahan pekerja dan harga sewa atau pembelian peralatan. Tentu saja ini tidak terlepas dari daftar analisa satuan pekerjaan yang harus dibuat terlebih dahulu. Meskipun biasanya telah ada aturan baku terhadap daftar analisa satuan pekerjaan tersebut yang disebut AHS-SNI.

 

 

Analisa harga satuan pekerjaan Standar Nasional Indonesia (AHS-SNI) dibutuhkan untuk menghasilkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan. RAB didapatkan dari harga upah, harga bahan dan harga alat yang diperoleh dari kondisi setempat. Sementara angka koefisien didapatkan dari analisa Burgeslijke Openbare Werken (BOW) yang sudah ditetapkan untuk menganalisa harga satu satuan pekerjaan bangunan. Namun, saat ini analisa BOW memang sudah jarang digunakan. Dan sudah diperbarui menjadi analisa SNI.

 

 

Maka, seperti halnya SNI yang diterapkan saat ini, analisa BOW dalam RAB juga memiliki tiga jenis angka koefisien sebagai penggali yaitu angka koefisien bahan, upah dan alat dalam pembuatan RAB pekerjaan konstruksi. Fungsi dari pembuatan RAB yaitu menetapkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) ataupun Harga Penawaran (HP). RAB harus dibuat pada ruang lingkup pekerjaaan yang mencakup pekerjaan bangunan gedung, bangunan air, jalan, jembatan, galangan kapal, bandara, bangunan konstruksi baja dan bangunan rumah tinggal.

 

 

Karena konsep dasar tersebut, maka sangat diwajibkan agar memahami dengan benar tentang membuat analisa BOW dalam RAB. Pada pembahasan kali ini, akan diulas mengenai elemen yang terdapat dalam analisa satuan pekerjaan dan penerapan analisa BOW.

 

 

Elemen Analisa Satuan Pekerjaan

 

Dalam RAB diperlukan harga satuan pekerjaan yang terdiri dari 3 jenis harga, yaitu harga satuan bahan, harga satuan tenaga dan harga satuan alat. Harga-harga tersebut harus diketahui terlebih dahulu dari hasil survey lapangan. Kemudian harga-harga satuan ini dikalikan dengan setiap koefisien yang telah ditentukan. Sehingga menjadi harga bahan, upah atau tenaga dan alat yang akan dijumlahkan menjadi harga satuan pekerjaan. Dengan kata lain, besar atau kecilnya harga satuan pekerjaan tergantung dari jumlah ketiga harga satuan tersebut yang dipengaruhi oleh:

 

 

  • Harga satuan bahan dipengaruhi ketelitian perhitungan kebutuhan bahan dari jenis-jenis pekerjaan.
  • Harga satuan alat dapat disewa atau diinvestasi sesuai kondisi lapangan, efisiensi alat, metode pelaksanaan, jarak angkut dan pemeliharaan setiap jenis alat.
  • Harga satuan upah atau tenaga dipengaruhi tingkat produktivitas dari pekerja.

 

 

Dalam menyelesaikan analisa BOW dalam RAB dapat dibuat dengan pendekatan SNI. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, SNI merupakan pembaharuan dari analisa BOW yang diperbarui. Analisa BOW sendiri berasal dari penelitian zaman Belanda saat dahulu kala yang dirasa sudah tidak lagi relevan dengan biaya saat ini. Penggunaan analisa BOW dapat menyebabkan pembengkakan RAB terutama pada angka koefisien tenaga. Sedangkan dalam pembuatan RAB dibutuhkan biaya yang seharusnya menggambarkan kondisi lapangan yang sebenarnya.

 

 

Sistem penyusunan RAB menggunakan analisa SNI dan analisa BOW memiliki metode perhitungan yang hampir sama. Bisa dikatakan dasar perhitungan kedua analisa tersebut sama secara metode. Metodenya meliputi daftar koefisien bahan, upah dan alat yang sudah ditetapkan. Kemudian koefisien akan digunakan untuk menganalisis harga yang akan digunakan sebagai harga satuan pekerjaan yang tercantum dalam RAB. Jadi bisa ditarik benang merah bahwa metode perhitungan analisa BOW sama dengan analisa SNI. Hanya terdapat perbedaan pada nilai angka koefisiennya yang mana angka koefisien SNI lebih sesuai di zaman sekarang.

 

 

Penerapan Analisa BOW

 

Biasanya hampir seluruh pekerjaan pembangunan menggunakan metode perhitungan SNI sebagai dasar pembuatan RAB. Kemudian RAB tersebut menjadi acuan dalam pelelangan pekerjaan pembangunan yang diikuti oleh konsultan konstruksi. Konsultan konstruksi yang memenangkan pelelangan umumnya memberikan penawaran harga yang baik berdasarkan kesesuaian spesifikasi teknis dan gambar kerja.

 

 

RAB pekerjaan pembangunan dapat memuat biaya dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan bisa juga mencakup jangka waktu yang cukup lama. Oleh karena itu identifikasi harga satuan pekerjaan sebaiknya dilakukan pada tahapan perencanaan pembangunan. Penerapan analisa BOW dalam RAB akan dijabarkan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

 

 

  1. Buka AHS-SNI yang sudah diterbitkan secara resmi oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten atau Kota di area pembangunan.
  2. Buka sheet dengan judul analisa harga satuan pekerjaan konstruksi.
  3. Dalam sheet tersebut telah tersedia jenis pekerjaan, uraian pekerjaan, angka koefisien dan kapasitas.
  4. Masukan harga satuan ke dalam kolom harga satuan yang telah disediakan. Harga satuan harus diisi sesuai harga kondisi setempat dalam ketentuan kapasitas yang sesuai.
  5. Jumlah harga akan langsung muncul karena telah diterapkan rumus pengalian antara koefisien dengan harga satuan.
  6. Penting untuk diingat bahwa angka koefisien ini merupakan metode perhitungan SNI. Jika Anda ingin membuat RAB dengan analisa BOW maka Anda bisa mengganti angka koefisien sesuai dengan ketetapan koefisien analisa BOW.

 

 

Pembuatan RAB sangatlah penting sehingga diperlukan ketelitian dalam menentukan harga satuan terkini. Analisa BOW dalam RAB masih bisa diterapkan meskipun membutuhkan perlakuan ekstra lebih terutama dalam mencari angka koefisien yang ditetapkan BOW. Untuk memudahkan memang sebaiknya menerapkan metode perhitungan analisa SNI sehingga lebih praktis dan relevan.