Standar dan Metode Pengukuran Pengerjaan Bangunan

Dalam mengerjakan segala sesuatu, standar dan metode memang diperlukan. Standar menjadi acuan bagaimana sesuatu itu akan dilaksanakan. Sedangkan metode menjadi petunjuk untuk mencapai standar tersebut. Terlebih dalam mengerjakan sebuah bangunan, tentu saja dibutuhkan standar dan metode yang tepat. Ulasan mengenai standar dan metode pengukuran pengerjaan bangunan berikut semoga bisa menambah wawasan Anda.

 

 

Pengertian Bangunan

 

Sebelum mengulas lebih jauh mengenai standar dan metode pengukuran pengerjaan sebuah bangunan, sebaiknya kita ketahui dulu pengertian dari bangunan.

 

 

Bangunan merupakan lingkungan yang sengaja diciptakan oleh manusia untuk tujuan tertentu. Umumnya bangunan dibuat dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari manusia. Kebutuhan itu seperti berkumpul dengan keluarga, bekerja, hingga liburan. Nyaris untuk setiap rutinitasnya, manusia membutuhkan bangunan untuk bernaung.

 

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bangunan termasuk ke dalam kelompok kata benda yang memiliki arti sesuatu yang didirikan. Hal ini berarti, bangunan akan ada bila ada yang mendirikan. Dan untuk mendirikan bangunan itu, dibutuhkan standar dan metode agar bangunan tidak menjadi produk gagal.

 

 

Standar Pengukuran Pengerjaan Bangunan

 

Apa yang Anda lakukan sebelum membangun sebuah bangunan? Tentunya melakukan pengukuran, bukan? Melakukan pengukuran sebelum membangun memang penting, agar bangunan tidak gagal. Dalam pengukuran pengerjaan bangunan, tentu ada standar yang harus diikuti.

 

 

Standar dan metode pengukuran pengerjaan bangunan atau disebut juga Standard Methode of Measurement of Building Works merupakan berbagai standar yang digunakan untuk melakukan pengukuran dalam suatu proyek bangunan. Standar pengukuran ini ditetapkan dari tahap perencanaan hingga tahap pemeliharaan bangunan.

 

 

Orang yang paling utama untuk mengerti mengenai standar pengukuran pengerjaan bangunan ini adalah Quantity surveyor. Mengapa? Karena seorang Quantity surveyor bersentuhan langsung dengan pengukuran pengerjaan bangunan tersebut. Selain itu, semua orang yang terlibat dalam manajemen bangunan juga wajib untuk mengetahui perihal standar pengukuran maupun metode pelaksanaan bangunan.

 

 

Secara garis besar, cakupan standar pengerjaan pengukuran bangunan ini, antara lain:

 

  1. Tahap persiapan/pendahuluan (Preminaries)
  2. Struktur dari Bangunan yang utuh
  3. Bangunan Baru
  4. Pekerjaan Dasar (Tanah)
  5. Pekerjaan Struktural (Besi/Kayu)
  6. Pekerjaan Beton
  7. Pekerjaan Batu (Pemasangan Bata)
  8. Pekerjaan Cladding
  9. Pekerjaan Waterproofing
  10. Pekerjaan Lapisan
  11. Pekerjaan Pintu dan kawan-kawannya
  12. Pekerjaan Fasad (Muka Bangunan)
  13. Pekerjaan Furnitur dan Interior
  14. Pekerjaan Halaman Rumah
  15. Pekerjaan Sistem Pembuangan dan Sistem Distribusi Air Bersih
  16. Pekerjaan Sistem Pemanas/Pendingin
  17. Pekerjaan Sistem Tata Udara
  18. Pekerjaan Sistem Elektrik
  19. Pekerjaan Sistem Komunikasi
  20. Pekerjaan Sistem Transport dalam Gedung
  21. ME pengukuran

 

Ke-21 komponen standar pengukuran tersebut harus benar-benar diperhatikan untuk kesuksesan pembangunan gedung.

 

 

Metode Pengukuran Pengerjaan Bangunan

 

Setelah membahas mengenai standar pengukuran pengerjaan bangunan, metode pengukuran pengerjaan bangunan yang dapat digunakan adalah sebagai berikut.

 

  1. Pengukuran Menggunakan Meteran

 

Pengukuran menggunakan meteran terbilang sering dilakukan saat pengerjaan bangunan. Meteran ini bisa dengan mudah didapatkan di toko-toko bangunan. Harganya pun terjangkau. Sehingga tidak heran jika meteran menjadi alat pengukuran favorit dalam pengerjaan bangunan.

 

 

Meteran yang umumnya digunakan memiliki panjang berkisar 3-7,5 meter. Selain mudah ditemukan dan terjangkau, meteran juga praktis dibawa untuk mengukur sebagian besar bagian pekerjaan bangunan. Bagian tersebut, seperti panjang ruangan, ukuran kusen, tinggi dinding, dan ukuran balok. Bagi seorang pengelola bangunan, alat satu ini tentu wajib dimiliki.

 

 

  1. Pengukuran Menggunakan Sigma

 

Jika untuk bagian yang relatif besar dapat diukur menggunakan alat meteran, lantas bagaimana dengan bagian bangunan yang berukuran kecil? Untuk benda-benda yang berukuran kecil, dapat digunakan alat ukur bernama Sigma. Alat ukur ini memiliki tingkat ketelitian tinggi. Material yang umumnya diukur menggunakan Sigma, seperti diameter besi, ketebalan plat besi, ketebalan triplek, dan lain sebagainya.

 

 

  1. Pengukuran Menggunakan Theodolit

 

Theodolit ini digunakan secara khusus untuk mengukur elevasi atau ketinggian bangunan dari permukaan tanah. Misalnya, ketika mengerjakan sebuah bangunan di daerah persawahan atau, dengan bantuan Theodolit, Anda dapat mengetahui elevasi awal bangunan tersebut.

 

 

Alat satu ini juga efektif jika digunakan pada pengerjaan bangunan seperti pembukaan badan jalan baru di lokasi pegunungan atau perbukitan. Theodolit membantu Anda untuk mengetahui ketinggian gunung atau bukit yang akan digali. Hal ini penting untuk memenuhi faktor kenyamanan dan keamanan jalan ketika dilalui.

 

 

Akan tetapi, penggunaan dan pengolahan data menggunakan alat ini terbilang rumit. Oleh karena itu, hanya beberapa orang yang merupakan surveyor yang dapat menggunakan alat ukur ini.

 

 

Metode Pengerjaan Bangunan

 

Pengerjaan bangunan tentunya tidak bisa sembarangan. Ada banyak sekali hal yang harus disiapkan secara matang. Berikut beberapa metode dalam pengerjaan bangunan.

 

  1. Persiapan

 

Yang termasuk dalam tahap persiapan ini antara lain sebagai berikut.

 

 

  1. Segala hal yang terkait kelancaran dalam pengerjaan bangunan harus sudah matang persiapannya, bahkan sebelum pelaksanaan di lapangan.
  2. Penempatan bahan/material bangunan dan kemungkinannya dalam mengganggu arus lalu lintas juga tidak boleh luput dari perhatian.
  3. Rincian jadwal, mobilisasi peralatan maupun tenaga kerja, dan semua kelengkapan administrasi harus sudah siap sebelum pengerjaan dimulai.
  4. Situasi, kondisi, dan berbagai ukuran. Situasi kondisi yang perlu diperhatikan, seperti keadaan tanah, sifat pengerjaan bangunan, dan sebagainya.
  5. Tanah dan Pasir (Fondasi)

 

 

Pada tahap ini terdapat beberapa pekerjaan yang dilakukan, seperti penggalian fondasi, penimbunan galian, dan pemadatan setiap lapisan. Oleh karena itu karena termasuk pekerjaan dasar, maka ada beberapa ketentuan yang wajib dipenuhi kontraktor sebagai berikut.

 

 

  1. Memastikan posisi galian dan ukuran sesuai dengan yang tertera dalam gambar.
  2. Memastikan telah memperoleh persetujuan pengawas lapangan.
  3. Penggalian fondasi baru dimulai jika pemasangan bouwplank dan patok disetujui oleh pengawas lapangan.
  4. Dasar galian harus sampai pada tanah yang keras serta bersih dari berbagai sesuatu yang dapat mengganggu.
  5. Dilakukan penimbunan menggunakan pasir dan tanah yang telah sesuai dengan gambar.

 

 

  1. Pemasangan

 

Pada tahap ini, pekerjaan yang dilakukan meliputi pemasangan beton. Beton tersebut mulai dari yang bertulang sampai yang tidak bertulang. Kualitas dari beton sendiri tergantung pada kualitas bahan yang digunakan. Bahan untuk pemasangan beton ini, antara lain semen, air, kerikil, pasir, beton, dan kayu.

 

 

  1. Lantai

 

Tujuan dari pemasangan lantai didasarkan atas petunjuk dari manajemen konstruksi dan rancangan proyek. Sebagai contoh pemasangan lantai menggunakan keramik. Pemasangan menggunakan keramik tersebut harus memenuhi aturan, seperti keramik bersih, tidak retak dan bergelombang. Jika pemasangan tidak sesuai dengan rancangan proyek yang dicanangkan, maka pembongkaran dan pemasangan ulang wajib dilakukan.

 

 

  1. Instalasi Listrik

 

Pekerjaan satu ini juga harus dilakukan sebaik mungkin. Pemasangan instalasi listrik harus disesuaikan dengan peraturan yang berlaku. Pekerjaan yang dilakukan, seperti pengadaan dan pemasangan seluruh komponen listrik sampai uji coba berbagai komponen tersebut.

 

 

  1. Penutup

 

Tahap ini meliputi pembersihan dan pemeliharaan. Ketika tahap pembersihan, kontraktor memiliki kewajiban untuk membersihkan seluruh bagian proyek agar siap huni. Sedangkan di tahap pemeliharaan, kontraktor memiliki kewajiban untuk mengganti berbagai material yang rusak maupun tidak berfungsi sesuai dengan target dari proyek.

 

 

Sekian ulasan mengenai standar dan metode pengukuran pengerjaan bangunan. Untuk mendirikan sebuah bangunan memang tidak mudah, karena itu pastikan rencana Anda sudah matang jika ingin mengerjakan sebuah bangunan. Semoga bermanfaat!

0/5 (0 Reviews)

Leave a Reply